putra mandaya

Mengenai Saya

Foto Saya
gaya hidup masa kini...

Rabu, 06 April 2011

RIWAYAT SYECH NAWAWI MANDAYA

SEKILAS RIWAYAT HIDUP SYECH NAWAWI MANDAYA

Segala puji hanya milik Allah SWT, solawat salam semoga selalu tercurah kepada baginda rasulillah, keluarga, sahabat dan pengikutnya termasuk kita semua amiin.
Ichwanul muslimin rohimakumullah, izinkan kami keluarga besar syech Nawawi Mandaya untuk mengutip riwayat ringkas perjalanan hidup beliau dari mulai lahir hingga wafat agar menjadi tauladan bagi kita sekalian ichwan santri khususnya kaum muslimin umumnya.
Beliau syech Nawawi bin syech Muhamad Ali bin Akhmad bin Abu Bakar rohimakumullah, dilahirkan di Mandaya – Carenang Serang Banten, pada tahun 1847M 1295H. di jaman penjajahan Belanda, dari seorang ulama besar yang bernama Syech Muhamad Ali, beliau putra paling di sayang karena kepintaran dan kecerdasan akalnya serta sudah terlihat oleh ayahandanya semenjak usia kanak – kanak, dengan sebab di sayangnya beliau, maka kemana saja pergi ayahanda ke Dighul Timur Kupang, berkali – kali beliau selalu di bawa, waktu itu beliau berusia 6 tahun.
Riwayat dibuangnya ayahanda ke Timur Kupang da sejumlah tokoh – tokoh ulama lainnya termasuk Ki Akhmad Towil/Ki Wasid, karena memang mereka –mereka inilah yang bersi keras menentang para colonial Belanda, menurut salah satu sumber, pad waktu itu ada sebuah pohon besar yang menjadi pemujaan Belanda dan pengikutnya, karena syech Muhamad Ali seorang tokoh ulama maka sanga tidak senang dengan prilaku penyembahan terhadap selain Allah, akhirnya pada suatu malam di ikatlah pohon itu dengan benang merah, hingga pada akhirnya tumbanglah pohon itu, dan marahlah para pemuja – pemuja syetan itu hingga pada akhirnya di tangkaplah para alim ulama termauk diantaranya syech Muhamad Ali beserta putra tersayangnya.
Setelah syech Muhamad Ali dibuang pertama ketika Belana pulang Ki syech sudah ada di rumah sampai tiga kali kejadian, tapi pada akhirnya Ki syech menyadari, bahwa ini mungkain slah satu suratan takdir harus dibuang oleh Belanda, maka beliau Ki syech menerimanya denga ikhlas dan rela, ditempat pembuangan para tokoh dan ulama ini selalu di siksa dan di perlakukan yang tidak menyanangkan, hingga suatu waktu colonial Belada memberikan tugas sayembara yang sangat sulit kalu dinilai oleh manusia biasa, yaitu di suruh menebang pohon yang batabgnya condong ke air, tapi kalau sudah ditebang jangan roboh ke air, dan diundilah satu persatu ulama tersebut sampai pada akhirnya syech Muhamad Ali mendapat urutan ke 7 (tujuh) dari mulai satu, dua, dan tiga. Semua gagal dalam melaksanakan tugas dan dibunuh dengan cara ditembak di temapt, pada waktu itu beliau Ki syech Muhamad Ali mengusulkan supaya jangan tambah korban lagi, karena mereka adalah ulama. Jadi sayang kalau mereka harus mati karena Belanda, inilah sikap bijak seorang ulama, ( ulama sesama ulama ), ( kyai sesama Kyai ), ( ustad sesama ustad ), ( santri sesama santri ), dan ( muslim sesama muslim ), harus salng menghormati dan menjunjung tinggi profesi satu sama lain, yang pada akhirnya kita akan mendapatkan ridho Allah SWT.
Ketika beliau syech Muhamad Ali mengajukan usul diterimalah usulnya itu oleh colonial Belanda. Beliau melangkah maju, seraya berdoa denga sekujur tubuhnya dengan darah – darah yang engalir semua sudah terserap dengan Latoif Toriqot Qodiriyah dan Naksabandiyah. Dengan izin Allah SWT dipeganglah satu daun dari pohon itu dan terangkat roboh kedaratan bukan kesungai tanpa menyentuh air sedikitpun, akhirnya dibebaskanlah sisa ulama itu dan pulang ke Banten.
Dalam perjalanan pulang ketika samapi di pulau NTB Ki syech juga melihat kegiatan masyarakat sekitar, dalam pemujaan pemusyrikan penyembahan selain Allah. Akhirnya beliau singgah dan menetap hinga menikah dengan salah seorang wanita salihah dan mendapatkan keturunan disanayang sampai sekarang masih meneruskan menylurkan ajaran – ajaran Islam disana dan kramatnyapun di rawat, di jaga, di bangun quba untuk para peziarah.
Setelah beliau istiqomah ± 6 tahun dan sebelum wafat beliau memanggil putra kesayangannya syech Nawawi untuk menghadap, lalu memberi amanat 2 buah kitab yaitu Awamil dan jurumiah yang pada waktu itu belum disempurnakan dagi dari lafadz maupun murod dan dijampilah beliau syech Nawawi oleh ayahandanya, Ki syech Muhamad Ali memerintahkan kepada putranya untuk pulang ke Banten menemui ibundanya tercinta nyi Siti Fatimah yang wafat di Mekah dan di kubur di Mekah dan punya peninggalan merupakan rumah di Mekah di daerah Jabal Qubes yang sekarang sudah terbongkar untuk peluasan Masjidil Kharom.
Syech Nawawi pulang dijemput oleh Ki Hasan atas panggilan ayahandanya, ki Hasan Ba’du Khodim syech Muhamad Ali, seperti halnya Ki Bajang waliallah Ba’du Khodim Ki syech Nawawi Tanara. Perjalanan pulang ke Banten syech Nawawi yang didampingi Ki Hasan tanpa dibekali uang sepeserpun tapi anehnya setiap kali perlu pasti ada temasuk setiap kali mau nyebrang laut selalu ada perahu/kapal yang sudah menunggu, subhanallah !!! seperti orang – orang yang hidup zaman sekarang yang sudah berpegang 2 tariqot Qodiriah Naksabandiah dengan ikhlas tanpa ada obyekan dan di bisniskan bukan mencari pengikut yang banyak, Allah maha tahu.
Sesampainya di Banten beliau Syech Nawawi sebelum melaksanakan amanat / pesan ayahandanya untuk menyempurnakan 2 kitab tersebut, beliau kebingungan bagaimana menyempurnakannya, hingga pada akhirnya kitab – kitab tersebut direndam di air kali/sungai, seraya beliau berkata “ ya Allah kalau memang kitab – kitab ini akan membawa manfaat dan barokah bagi umat, maka kitab ini jangan hancur lebur”, akhirnya berangkatlah beliau ke pesantren. Diantaranya, Bakung Gorda, Kenari Kesemen, Cangkudu Baros, dan lain – lain. Sampai pada akhirnya dari Cengkudu Baros mendapat jodoh putri pungut Abuya Siddiq, dan diiring pulang ke Mandaya untuk Istiqomah. Membangun pondok pesantren, dalam satu riwayat waktu ponpes Mandaya adalah satu – satunya pondok yang menghatamkan Fathul Mu’in dan memadukan pelajaran 2 pan sekaligus, yaitu Fiqih dan Nahwu. Dan disempurnakanlah kitab Awamil dan Jurumiah tersebut secara keseluruhan lafadz maupun murod, dan diajarkan kepada santri sampai sekarang, sudah ribuan Kyai dan Ulama yang tercetak melalui didikan beliau, turun temurun sampai saat inipun masih banyak yang mempelajari/belajar Awamil dan Jurumiah. Diantaranya Abuya Rasam sang mertua tokoh legendaris Fathul Mu’in Almarhum wal Maghfuroh syechuna wamualimuna wamu’adibuna KH. Yusuf Caringin / Abah Ucu dan KH. Abuya Mustaya Binuang, termasuk minantu tersayang KH. Wasi’ul Hasan Sohibu Warad Tariqot Qodiriyah guru KH. Akhmad Munfasir Padarincang Barugbug Rohimakumullahta’ala Wanafaana Bi’ulumihim fidaroeni Waja’ala Janata Ma’ahum Amiin !!! di dalam mengajarkan ilmu beliau penuh dengan Khowariqul Adat, karena disamping prilaku beliau semenjak kecil jarang tidur malam, jarang makan siang disamping itu pula beliau seorang putra ulama besar yang tersayang. Santri – santri beliau semua jadi orang berpengaruh baik ilmu dohir sariat, maupun batin thoriqot.
Bahkan dalam satu riwayat santri beliau bukan sekedar manusia biasa tapi bangsa Jin pun ada yang mengaku guru dan belajar ( sumber dipertanggung jawabkan ).
Maka tidak aneh dengan ibadah yang sangat luar biasa dapat dibuktikan sekarang melalui karangannya Al Awamil murod dan Jurumiah murod dapat membawa kita semua para santri dapat terangsang dan terlena untuk mengaji dan menggali ilmu yang lain yang lebih dalam dan kitab – kitab yang lebih besar, sehingga dengan demikian yang awalnya bukan apa - apa dan bukan siapa – siapa, akhirnya dengan sebab berilmu jadi tanda tanya (?), ibu – ibu, bapak – bapak, “oh,,, siapa,,, oh,,, siapa,,,, pintar sekali ngajinya, ceramahnya,, rajin lagi ibadahnya”.
Ichwan santri rohimakumullah, akhirnya kemanfaatan dan kebarokahan tersebut semua dapt dirasakan oleh semua pihak umat muslimin khususnya umat manusia umumnya, dengan sebab ilmu dan ajaran beliau syech Nawawi turun temurun sampai kepada masa kita sekarang Insya Allah sampai dekat hari Qiyamah.
Beliau mengajarkan ilmu dibarengi dengan keikhlasan. Bukti keikhlasannya itu adalah bergelarnya ilmunya di jaziroh Banten khususnya di dunia umumnya sampai pada akhirnya wafat pada tahun 1949M/1370H di Mandaya, dikebumikan di Mandaya. Yang sedang dibangun Quba keramat dan Majlis Talim.
Untuk kepentingan jiaroh dan tolabul ilmi pengajian rutin bulanan dan mingguan.
Maka dari itu marilah kita sama – sama mewujudkan sebagai rasa syukur kita kepada Allah untuk membangun dan menjaga sekaligus menghargai karomah syech Nawawi Mandaya.
Akhirnya dari kami keluarga besar syech Nawawi mengucapkan terima kasih yang tak terhingga.

Mohon maaf dan maklum adanya

Mandaya, 31 Agustus 2009
a/n keluarga Besar




( A. Itmamul Khotib )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar